BATAM – Sorak sorai memenuhi Lapangan Futsal Ikan Daun, Sabtu (26/7), saat Wali Kota Batam H. Amsakar Achmad menendang bola ke arah gawang. Tendangan simbolis itu menjadi penanda dimulainya Turnamen Futsal PK NTT Cup II, ajang olahraga yang sarat makna kebersamaan dan toleransi.
Dengan mengusung tema “Melalui Olahraga, Kita Rawat Persaudaraan dan Perbedaan,” turnamen ini menjadi ruang silaturahmi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merantau di Batam, Karimun, Padang, hingga Medan.
Sebanyak 32 tim berpartisipasi, dibagi ke dalam 8 grup, mengukir prestasi dalam semangat sportivitas dan kekeluargaan.
Kehadiran Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang membuka turnamen bersama Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, disambut hangat. Bagi warga diaspora NTT, kehadiran sang gubernur menjadi sebuah pelukan moral dari kampung halaman.
Amsakar: Batam adalah Rumah Kita Bersama
Dalam sambutannya, Wali Kota Amsakar Achmad menekankan, Batam dibangun di atas fondasi keberagaman. Kota ini tumbuh dari perjumpaan budaya, dari kerja keras para perantau yang menjadikan Batam ladang penghidupan dan rumah kedua.
“Warga NTT dikenal pekerja keras, cepat berbaur, dan penuh semangat. Ini kekuatan besar bagi Batam,” ujarnya. Baginya, kontribusi warga Flobamora – akronim dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor – adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan kota.
Amsakar mengajak seluruh warga NTT untuk terus menjaga Batam sebagai kota yang aman, nyaman, dan inklusif. “Batam milik kita bersama. Mari kita jaga bersama,” tuturnya penuh semangat.
Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap panitia yang telah menyelenggarakan turnamen dengan semangat pemersatu. “Kegiatan seperti ini bukan hanya melahirkan atlet, tapi juga mempererat jalinan antarsesama,” tambah dia.
NTT: Nusa Terindah Toleransi
Di hadapan ratusan warga, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyuarakan pesan yang menggugah: “NTT adalah Nusa Terindah Toleransi. Nilai ini harus kita bawa ke mana pun kita pergi.” Ucapan ini menjadi cerminan dari etos hidup masyarakat NTT yang mengedepankan gotong royong, kerendahan hati, dan harmoni sosial.
Melki juga menekankan pentingnya olahraga sebagai sarana pembinaan karakter, terutama bagi generasi muda diaspora. Menurutnya, futsal atau cabang olahraga lainnya bisa menjadi medium penyaluran potensi sekaligus menjaga solidaritas dan identitas.
“Jangan lupakan akar kita. Di mana pun kita berada, nilai-nilai NTT harus tetap hidup dalam sikap dan karya,” pesannya. (bm2)

