SELAMA 400 tahun Yastrib terlibat perang saudara akibat perebutan kekuasaan, sehingga dalam kurun masa ini Yastrib mengalami facum of power (kekosongan pemerintahan). Perang saudara yang berkepanjangan membuat mereka lelah dan jenuh membunuh antara satu dengan lainnya, sehingga muncul kerinduan untuk menghentikan kegilaan ini. Para pemimpin kabilah di Yastrib sebagai pemegang otoritas masyarakat akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata dan memulai perundingan.
Perundingan demi perundingan untuk menghentikan perang guna menghindari jatuhnya korban yang lebih banyak lagi pada akhirnya berhasil mengambil consensus bahwa mereka akan mengangkat pemimpin dari kalangan external, sebabnya kalau pemimpin yang akan ditunjuk dari kalangan internal hanya akan menyulut perpecahan yang berujung kepada peperangan. Karena semua kabilah merasa paling otoritatif untuk menjadi pemimpin. Mereka meyakini hanya dengan cara inilah peperangan bisa diakhiri.
Maka mulailah mereka menghimpun informasi siapa figur pemimpin external yang paling memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin mereka. Tentu saja calon pemimpin itu adalah orang yang dapat berlaku adil di antara para kabilah Yastrib.
Secara demografi komposisi penduduk Yastrib di bagi kepada 3 kelompok agama yang paling mendominasi, yakni Yahudi, Kristen dan Pagan (penyembah berhala). Yahudi merupakan kelompok terbesar menyusul Kristen dan kemudian Pagan di urutan terakhir.
Pada waktu bersamaan terjadi krisis perang di Makkah, daerah yang bertetangga langsung dengan Yastrib. Terjadi perebutan pengaruh di antara para kabilah di Makkah. Hal ini bermula ketika terjadi banjir di sekitar Masjidil Haram yang menyebabkan batu hitam yang menempel di Ka’bah terlepas dan hanyut dibawa arus. Batu hitam yang dianggap sebagai batu keramat peninggalan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail ketika mereka membangun Ka’bah 2570 tahun yang lalu.
Menurut keyakinan masyarakat Makkah, batu hitam yang menempel di Ka’bah merupakan simbol kekuasaan Tuhan, karena itu ketika batu tersebut terlepas dari tempatnya maka hanya mereka yang paling otoritatif yang bisa mewakili semua penduduk Makkah untuk mengembalikannya ke posisi semula. Di sinilah letak masalahnya, karena semua pemimpin kabilah di Makkah merasa paling otoritatif untuk mengembalikan batu hitam tersebut ke posisinya semula.
Nyaris saja 10 pemimpin kabilah mengumumkan perang karena perselisihan di dalam menentukan siapa yang paling otoritatif dalam hal tersebut. maka seorang yang paling senior di antara mereka menyarankan agar digelar perundingan. Merekapun berkumpul di Darun Nadwah (semacam lembaga perwakilan rakyat kala itu). Setelah melalui perdebatan panas akhirnya mereka sepakat untuk menunjuk seorang hakim yang akan menentukan siapa yang paling berhak mengembalikan batu hitam itu ke posisinya semula.
Tapi mereka mulai kebingungan, siapa pihak yang akan mereka tunjuk menjadi hakim. Maka atas saran seseorang mereka akan menunjuk siapapun yang pertamakali masuk ke masjidil haram di pagi hari di luar para pemimpin kabilah. Akhirnya perundingan ditutup dengan kesepakatan yang diterima oleh semua pihak.
Sejak dinihari semua pemimpin kabilah sudah bersembunyi dari suatu tempat untuk mengamati siapa orang pertama yang masuk ke masjidil haram pagi itu. Ternyata orang itu adalah Muhammad. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Muhammad-lah yang pertamakali masuk ke masjidil haram pagi itu, sehingga merekapun akhirnya akan menunjuk Muhammad sebagai hakim.
Rasa-rasanya penunjukan ini tidak akan salah, selain karena Muhammad merupakan orang pertama yang masuk ke Masjidil Haram pagi itu, dia juga dikenal sebagai orang yang bijak sejak mudanya. Merekapun meminta Muhammad untuk memutuskan siapa yang berhak mengembalikan batu hitam tersebut.
Muhammad meminjam selendang isterinya Khadijah lalu membentang selendang itu di tanah, kemudian beliau mengambil batu hitam itu dan meletakkannya di tengah selendang. Setelah itu beliau memilih empat pemimpin kabilah yang paling berpengaruh, lalu meminta mereka memegang ujung selendang, masing-masing dengan sudut yang berbeda. Selanjutnya mereka diminta untuk mengangkat selendang itu bersamaan, setelah sampai di depan Ka’bah, Muhammad kembali mengambil batu di tengah selendang itu dan meletakkannya kembali ke sisi Ka’bah.
Ternyata langkah yang diambil Muhammad memuaskan semua pihak, mereka merasa tindakan Muhammad cukup adil. Dengan demikian maka perselisihan di antara para kabilahpun dapat diakhiri.
Para pemimpin kabilah di Yastrib mendengar informasi apa yang tengah berlaku di Makkah, maka merekapun berpikir orang inilah yang tepat untuk menjadi pemimpin Yastrib, bukankah ia telah sukses menyatukan perselisihan kaumnya. Jadi para pemimpin kabilah membentuk sebuah tim yang akan meneliti dan mempelajari profil serta sepak terjang Muhammad sebelum kemudian ia akan ditunjuk menjadi pemimpin Yastrib.
Setelah mendapat informasi yang cukup, akhirnya para pemimpin kabilah merasa mantap dengan pilihan mereka, bahwa Muhammadlah yang pas untuk posisi pemimpin di Yastrib. Maka merekapun mengirim utusan untuk menemui Muhammad dan meminta kesediaan beliau untuk berimigrasi ke Yastrib dan menjadi pemimpin mereka.
Ketika utusan Yastrib datang, Muhammad dan pengikutnya sedang mengalami penindasan yang luar biasa dari otoritas Makkah, akibat seruan Muhammad untuk meninggalkan kepercayaan pagan dan mengikuti keyakinannya mengenai keberadaan Tuhan Yang Maha Tunggal. Dalam pandangan otoritas Makkah, gerakan yang dilakukan Muhammad ini merupakan gerakan politik yang berbentuk makar untuk mengambil alih posisi otoritas Makkah.
Sebelumnya Muhammad sudah meminta suaka ke Penguasa Abesinia di Tha’if, meski awalnya mereka diterima, akan tetapi otoritas Tha’if pada akhirnya mendeportasi mereka, setelah mendapat tekanan dari Makkah. Jadi Muhammad dan pengikutnya kembali ke Makkah setelah diusir paksa dari Tha’if.
Dalam keadaan yang demikian itulah, tiba-tiba utusan Yastrib datang dan menjanjikan suaka kepada Muhammad dan pengikutnya dengan syarat Muhammad bersedia memimpin Yastrib.
Muhammad pun menyetujui syarat yang diajukan oleh pihak Yastrib dan memberi sinyal bahwa mereka akan segera eksodus ke Yastrib. Jadi Muhammad mempersiapkan diri dan membagi kelompok imigran ke dalam tiga rombongan. Rombongan pertama merupakan rombongan terbesar yang akan dipimpin oleh Umar bin Khattab dan Hamzah. Rombongan kedua adalah beliau sendiri ditemani sahabatnya Abu Bakar. Rombongan ketiga adalah kelompok yang terdiri dari ahli keluarga beliau dan kaum perempuan yang akan dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib.
Rombongan pertama bertugas melakukan prakondisi di Yastrib untuk memastikan bahwa penduduk Yastrib sudah siap menerima kedatangan Muhammad. Setelah itu Muhammad dan Abu Bakar pun menyusul. Pada saat Muhammad akan meninggalkan Makkah, rumah beliau dikepung oleh 30 orang dari Detasemen Khusus (DENSUS) yang disiapkan oleh otoritas Makkah yang terdiri dari tentara terlatih yang diambil dari setiap perwakilan kabilah. Tapi Muhammad berhasil mengecoh mereka, saat mereka sedang lengah, Muhammad keluar secara diam-diam meninggalkan Makkah, di temani sahabatnya Abu Bakar, di perbatasan luar kota, Muhammad mengajak Abu Bakar untuk bersembunyi di gua di kaki Gunung Cahaya yang bernama Gua Tsur.
Ketika menyadari Muhammad sudah tak berada di rumah, pasukan DENSUS bergerak cepat mengejar Muhammad yang mereka yakini sedang bergerak ke arah Yastrib, dalam pengejaran itu mereka dipandu oleh seorang ahli jejak. Persis ketika berada di kaki gunung cahaya ahli jejak menyakini bahwa Muhammad bersembunyi di dalam gua. Akan tetapi jejak kaki di depan gua terputus, sedangkan pintu gua tertutup jaring laba-laba yang masih utuh, memberi kesan bahwa gua itu tidak pernah dimasuki orang. Ketika salah seorang menyibak jaring laba-laba itu, serombongan kelelewar beterbangan keluar dari dalam gua, semakin meyakinkan mereka bahwa mustahil ada orang di dalam gua, jadi mereka mengabaikan petunjuk ahli jejak dan segera meninggalkan gua karena kuatir mereka tidak akan dapat menyusul Muhammad. (Bersambung…)
Syamsul Ibrahim, Sekjen Gerakan Masyarakat Madani (GMM)

